
Artikel & Penelitian Terkait
Kumpulan artikel dan penelitian seputar ADHD, stunting, dan kesehatan mental anak dari berbagai sumber terpercaya.
MENURUNKAN TINGKAT PERILAKU PADA ANAK GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS MENGGUNAKAN METODE KELAS PENGASUHAN DAN ALAT BELAJAR SEDERHANA
Lihat penelitian
Menangani Anak Hiperaktif Kala Pandemi
"Mama, aku bosan di dalam rumah! Aku mau keluar! Aku mau bermain di luar!" Kata Rio (5 tahun; bukan nama sebenarnya) sambil berlari-lari di dalam rumah. Mama Rio merasa lelah dan tidak tahu harus berbuat apa ketika Rio yang Hiperaktif berada di dalam rumah sepanjang waktu selama masa stay at home ini terutama dalam mengikuti pembelajaran daring.Ayah Bunda, tidak dipungkiri dalam masa pandemi Covid 19 ini, dimana kita lebih sering untuk stay at home tentu saja banyak kegiatan yang akan dilakukan di dalam rumah. Situasi ini tidak mudah bagi semua orang, termasuk bagi anak hiperaktif dan orangtuanya. Apabila saat ini Ayah Bunda menaruh pada kepedulian pada anak hiperaktif atau memiliki anak Hiperaktif dan dalam masa pandemi ini kesulitan untuk menangani perilakunya maka artikel ini sangat tepat untuk dibaca lebih lanjut.Ayah Bunda, apakah tahu tentang anak Hiperaktif itu yang seperti apa? Anak Hiperaktif atau dalam bahasa Psikologisnya disebut sebagai anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktif merupakan anak yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : sulit konsentrasi, tidak bisa duduk tenang, selalu bergerak seperti tidak mengenal lelah, tingkat kepatuhan yang rendah, emosi labil, bahkan jika keinginannya tidak dituruti maka anak akan berteriak-teriak bahkan memukul diri sendiri maupun orang lain.Permasalahan yang dialami oleh Rio dan Mama Rio merupakan gambaran situasi yang terjadi pada keluarga yang mempunyai anak hiperaktif. Mengutip pendapat Saputro (Hikmawati, 2014) bahwa perilaku anak hiperaktivitas yang cenderung semaunya sendiri, seringkali menjadikan anak mengalami kesulitan berelasi dengan orang lain.Anak hiperaktivitas mengalami kesulitan untuk mematuhi instruksi karena anak tidak mampu mengendalikan diri. Orangtua seringkali memarahi dan bahkan memberi cap pada anak sebagai anak nakal atau usil. Anak hiperaktif mengalami permasalahan dalam hal belajar, apalagi dengan sistem daring saat ini. Kesulitan dalam belajar ini lebih disebabkan karena anak mengalami kesulitan dalam konsentrasi dan mengendalikan diri. Perilaku tidak dapat duduk tenang, berlari, memanjat secara berlebihan, atau sering pula berbicara terus menerus dan tidak berhenti dapat menjadi masalah ketika masa stay at home ini. Banyak anak hiperaktif memiliki taraf kecerdasan rata-rata (normal) dan bahkan ada yang lebih tinggi, namun dengan kondisi perilaku semacam ini disertai dengan pembelajaran daring yang minim kontak langsung maka bila tidak dikelola dengan baik akan membuat potensi anak tidak berkembang optimal.Dikutip dari Website Kemdikbud (2020), yang menyatakan bahwa pembelajaran secara jarak jauh yang menggunakan jaringan (daring) akan dilakukan selama pandemi Covid 19 ini. Hal ini dilakukan untuk menjaga kamanan dan keselamatan siswa maupun guru dalam masa pandemi ini. Dijelaskan pula bahwa pembelajaran yang disampaikan secara daring/ jarak jauh ini dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.Tentu saja pembelajaran daring anak hiperaktif adalah sesuatu yang baru demikian juga bagi orangtua. Menangani anak hiperaktif 24 jam di dalam rumah saja sangat menguras energi apalagi ditambah dengan mendampingi pembelajaran daring. Apa yang bisa dilakukan orangtua dengan situasi seperti ini?Berikut adalah tips jitu yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menghadapi perilaku anak saat stay at home dan mendampingi pembelajaran daring, yaitu (Wijaya, 2015) :Terapkanlah Pola asuh 3 P (Penuh kasih sayang, Penghargaan, Persahabatan)Penuh kasih sayang dapat diungkapkan dengan memberikan perhatian positif, pujian, kata-kata semangat. Penghargaan dapat diberikan dengan cara memberikan apresiasi dalam perilakunya yang positif seperti acungan jempol, pujian, pelukan. Persahabatan dapat ditunjukkan dengan menjadi teman ngobrol yang asyik bagi anak, tentang tugas sekolahnya, tentang bermain, dan hal lainnya.Terapkanlah Disiplin positifTentukan jam belajar anak, jam bermain, jam istirahat, jam aktivitas fisik di dalam rumah seperti olah raga ringan, maupun gerak dan lagu.Menjaga suasana rumah tetap gembira dan sehatBangunlah perasaan bahagia bagi seluruh anggota keluarga dan terapkan pola hidup sehat. Perasaan bahagia dapat dibangun dengan cara sering bercanda bersama keluarga, tertawa, bermain, berkebun, berdoa yang dilakukan bersama dengan keluarga.Dengan menerapkan tiga tips ini, orangtua dapat menjadi lebih rileks dalam mengelola perilaku anak hiperaktif di dalam rumah. Tetap tenang, bahagia, sehat dan kreatif adalah modal dasar bagi orangtua untuk dapat bertahan dalam situasi pandemi ini bersama ananda di rumah.Selamat berproses dengan gembira.Artikel ini sudah tayang di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/harristaadiati/5f4c62be1184097be56ddc02/menangani-anak-hiperaktif-kala-pandemi?page=all#section1
Baca selengkapnya
Bagaimana Menjadi Orangtua Yang Hening?
Dalam pengasuhan kepada anak, apakah ayah bunda pernah merasakan keletihan? Terutama saat melihat tingkah laku anak yang tidak terkendalikan. Adanya tantrum, selalu bergerak, sulit patuh pada tata tertib dan sulit diarahkan. Apabila ayah bunda menghadapi perilaku tersebut dalam diri anak, apa yang perlu ayah bunda lakukan? Apakah marah, meluapkan kekesalan pada anak, bahkan mengeluh? Apakah ada acara lain supaya ayah dan bunda dapat mengelola perilaku anak dengan lebih baik?Inilah pertanyaan yang sering saya hadapi di lingkup praktik layanan psikologi yang saya lakukan. Menjadi orangtua adalah proses belajar sepanjang hayat, bahwa menjadi orangtua berarti menjadi siap terhadap segala kemungkinan perilaku yang ditunjukkan oleh anak. Anak bukanlah miniatur orang dewasa sehingga cara berpikirnya adalah murni perkembangan anak.Yang perlu dilakukan pertama kali saat menghadapi hal seperti ini adalah ayah dan bunda perlu untuk melihat ke dalam diri sendiri. Apakah secara hati dan pikiran ayah bunda siap dan mau menyiapkan diri dalam menghadapi perilaku anak? Ada sebuah konsep reflektif yang dapat dipakai saat mengasuh anak, yaitu HENING. Hening didefinisikan sebagai keadaan sunyi, sepi, atau lengang (tanpa suara), serta jernih atau bersih (merujuk pada air atau perasaan hati/pikiran). Ini adalah ruang mental untuk menenangkan pikiran, menjernihkan niat, dan berdamai dengan diri sendiri.Di tengah-tengah keriuhan suara dan keaktifan gerak anak, ayah dan bunda diminta untuk hening. Apakah ini mustahil? Tentu tidak. Melalui Latihan yang terus menerus maka ayah bunda dapat membangun hening di pikiran dan hati sehingga menghadapi perilaku anak menjadi lebih ringan.Hal ini, bukan untuk mengubah anak, namun mengubah diri sendiri sebagai orangtua. Dengan hening orangtua mempunyai cara pandang baru dalam menyikapi perilaku anak.Berikut adalah Latihan hening yang dapat ayah bunda latih, yaitu Teknik "S.T.O.P"- Stop (Berhenti sejenak).- Take a breath (Ambil napas dalam).- Observe (Amati pikiran & perasaan tanpa menghakimi).- Processed (Lanjutkan tindakan dengan kesadaran penuh).Saat menghadapi keriuhan gerak anak, maka ayah bunda dapat ambil jeda sejenak, katakan STOP pada diri sendiri, lalu ambil nafas yang dalam berulang kali hingga rileks. Setelah itu, amatilah perilaku anak, apa yang sebenarnya anak sedang lakukan, apa yang ia inginkan dan apa yang membuat orangtua merasa perlu berhenti sejenak, kemudian renungkan tindakan apa yang dapat anda lakukan sebagai orangtua dalam menyikapi perilaku anak.Selain itu, ayah dan bunda juga dapat melatih Keheningan Mandiri dalam bentuk sebagai berikut:Alokasikan 10-15 menit pertama setelah bangun tidur tanpa gawai.Menciptakan blok waktu 60-90 menit untuk bekerja tanpa distraksiRefleksi Malam: Menutup hari dengan pertanyaan untuk diri sendiri: "Apa yang saya pelajari tentang diri saya hari ini?"Dengan latihan hening dengan Teknik STOP dan Keheningan Mandiri ini, maka orangtua akan mempunyai gaya perilaku baru yang lebih tenang dalam menghadapi anak. Selamat hening dalam mengasuh anak.Daftar Pustaka:Istriyanti , Ni Luh Arick. 2026. Materi Pelatihan Heaning Itu Healing: Refleksi Nyepi bagi Kesehatan Mental.
Baca selengkapnyaApakah Anakku Hiperaktif?
Halo Ayah Bunda, apakah Ananda terlalu aktif bergerak? Terlihat sangat energik dan tak kenal lelah? Senantiasa bergerak dan kurang suka duduk tenang?Perilaku seperti ini seringkali mulai Nampak pada anak usia kurang lebih 2-3 tahun, yang dapat semakin terasa intensitas dan frekuensinya seiring dengan bertambahnya usia anak. Ayah Bunda tidak perlu khawatir. Lebih baik ayah bunda periksakan Ananda ke psikolog klinis. Hal ini dibutuhkan untuk mengetahui status perkembangan anak, utamanya untuk mengetahui Ananda adalah anak yang aktif atau hiperaktif.Seringkali orangtua pada umumnya abai terhadap gejala perilaku yang ditunjukkan anak. Alih-alih melakukan observasi lebih mendalam, yang ada seringkali adalah anggapan bahwa karena usia Ananda masih terlalu kecil sehingga wajar jika berperilaku seperti itu.Ayah Bunda, memeriksakan Ananda lebih dini ke psikolog klinis adalah Langkah terbaik. Tidak perlu menunggu gejala perilaku semakin parah, semakin dini dilakukan pemeriksaan maka akan semakin cepat diberikan intervensi perilaku yang dibutuhkan sehingga tumbuh kembang Ananda sesuai dengan usia perkembangannya.Berdasarkan Diagnostic Statistic Manual IV-TR (DSM IV-TR), Gangguan Pemusatan Perhatian disertai Hiperaktivitas yang biasa dikenal sebagai GPPH adalah keadaan neurologis perilaku dengan gejala-gejala yang meliputi kurangnya perhatian (inattentiveness), perilaku impulsif (impulsivity), dan aktivitas yang berlebihan (overactivity) yang tidak sesuai dengan ciri-ciri tahapan perkembangan anak. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif,perilaku, sosialisasi, maupun komunikasi (Sattler dalam Nuzullia, 2012).Apa Ciri-Ciri GPPH?Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) ditandai dengan adanya gejala (Nanik, 2007) :1. Ketidakmampuan anak untuk memusatkanperhatiannya pada sesuatu yang dihadapi2. Rentang perhatiannya sangat buruk atau sangat singkat waktunya dibandingkan dengan anakanak lain yang seusianya3. Adanya tingkah laku yang hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif4. Memiliki aktivitas motorik lebih dari rata-rata anak seusianya5. Bila duduk tidak bisa diam, tidak bisa duduk lama6. Selalu bergerak, berjalan-jalan7. Impulsif8. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain9. Tidak pernah berhenti bicara10. Memiliki aktivitas kognitif dengan perhatian mudah beralih, rentang pemusatan perhatian pendek11. Sulit mengikuti beberapa instruksi secara berurutan,12. Cepat lupa13.Mudah gusar/ gelisah14. Tidak mudah jera15. Toleransi terhadap frustrasi rendah16. Melamun, dan murung bila dibandingkan dengan anak seusianya.Tentu saja, artikel ini bukan menjadi alat diagnose perilaku Ananda. Ayah dan Bunda tetap perlu untuk memeriksakan kondisi Ananda. Selamat berproses Ayah Bunda. Ingatlah, bahwa anak adalah harta paling berharga bagi orangtua, maka jagalah, rawat dan cintai dengan upaya terbaik.DAFTAR PUSTAKANuzullia, Mefsya. Juke R. Siregar. Afra Hafni Noer. 2012. PELATIHAN PENGASUHAN ANAK DENGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DISERTAI HIPERAKTIVITAS (GPPH). Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 4 No. 1 Juni 2012
Baca selengkapnyaKesulitan Memberi Makan Untuk Anak?
Makan adalah suatu kebutuhan. Makan adalah cara untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh. Jika anak lancar dalam makan pasti orangtua bahagia. Namun, jika anak sulit dalam makan sehingga nutrisi tidak masuk secara optimal tentunya orangtua akan merasa sedih. Hal ini akan terasa lebih sulit saat anak juga mengalami hiperaktif. Kesulitan makan yang dialami oleh anak khususnya dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH/ADHD) dikarenakan adanya perilaku mudah teralihkan dan impulsif. Picky eater (pemilih makanan), menolak makan, atau tidak bisa duduk tenang saat makan sering ditemukan pada anak GPPH. Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan karena jika tidak ditangani dengan baik maka anak bisa mengalami kekurangan nutrisi yang mengarah pada kemungkinan stunting. Lalu bagaimana caranya menghadapi hal ini? Berikut adalah beberapa tips untuk dapat mengendalikan perilaku anak GPPH khususnya saat makan: Orangtua tetap tenang. Jangan panik. Kelola emosi. Karena orangtua yang frustrasi akan memberikan energi negatif pada anak. Orangtua dapat menarik nafas panjang dan mencoba untuk rileks. Siapkan anak saat akan makan, yaitu dengan meminimalkan hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasinya, misalnya TV, HP, mainan dll. Karena makan yang disertai dengan aktivitas lain akan membuat anak tidak sadar bahwa ia sedang makan sehingga tidak mengenal duduk maupun jam makan. Tentukan jam makan yang tepat untuk anak, sehingga biologis anak belajar secara rutin bahwa jam tersebut adalah jam makan. Libatkan anak saat mempersiapkan makanan yang akan dimakan sehingga bisa membangun ketertarikan anak pada makanannya. Jangan paksa anak karena akan berimbas pada hubungannya dengan proses makan. Bangunlah suasana gembira dan fokus pada makanan saat kegiatan makan dilakukan. Semoga tips sederhana ini dapat dilakukan supaya anak GPPH dapat tercukupi nutrisinya dan dapat mencegah stunting. Jangan lupa anak GPPH tetap membutuhkan penanganan khusus oleh psikolog klinis. Be happy parents. Artikel ini sudah tayang di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/harristapsikolog7671/69ca5e22ed641521b85ee982/kesulitan-memberi-makan-untuk-anak
Baca selengkapnya